RHEUMATOID ARTRITIS
Kata arthritis mempunyai arti inflamasi pada sendi (“arthr” berarti sendi “itis” berarti inflamasi). Inflamasi menggambarkan tentang rasa sakit, kekakuan, kemerahan, dan pembengkakan. Rheumatoid arthritis merupakan suatu penyakit autoimun, dimana target dari sistem imun adalah jaringan yang melapisi sendi sehingga mengakibatkan pembengkakan, peradangan, dan kerusakan sendi.
Rheumatoid arthritis (RA) merupakan suatu penyakit autoimun yang ditandai dengan terdapatnya sinovitas erosif simetrik yang terutama mengenai jaringan persendian, seringkali juga melibatkan organ tubuh lainnya. Pasien dengan gejala penyakit kronik apabila tidak diobati akan menyebabkan terjadinya kerusakan persendian dan deformitas sendi yang progresif disabilitas bahkan kematian dini.
Patofisiologi
Rheumatoid arthritis merupakan akibat disregulasi komponen humoral dan dimediasi oleh sel imun. Pada pasien RA menghasilkan antibodi yang disebut dengan faktor reumatoid (RF). Pasien yang mempunyai RF seropositif cenderung memiliki perjalanan penyakit yang lebih agresif dari pasien yang seronegatif. RA termasuk penyakit autoimun sistemik yang menyerang persendian. Reaksi autoimun terjadi dalam jaringan sinovial. Proses fagositosis menghasilkan enzim dalam sendi, kemudian enzim memecah kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi membran sinovial dan akhirnya membentuk pannus. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Otot juga terkena karena serabut otot mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot (Suarjana, 2009).
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis RA dibagi menjadi 2 kategori yaitu manifestasi artikular dan manifestasi ekstraartikular. Manifestasi artikular dibagi menjadi 2 kategori, yaitu gejala inflamasi akibat aktivitas sinovitis yang bersifat reversibel dan gejala akibat kerusakan struktur persendian yang bersifat ireversibel. Sinovitis merupakan kelainan yang umumnya bersifat reversibel dan dapat diatasi dengan pengobatan medikamentosa atau pengobatan non surgical lainnya (Shah and Clair, 2012).
Gejala klinis yang berhubungan dengan aktivitas sinovitis adalah kaku pagi hari. Beberapa aspek lain yang berhubungan dengan sendi yaitu (Suarjana, 2009) :
a. Vertebrata Servikalis, merupakan segmen yang sering terlibat pada RA. Proses inflamasi ini melibatkan persendian diatrodial yang tidak tampak oleh pemeriksaan. Gejala dini umumnya bermanifestasi sebagai kekakuan pada seluruh segmen leher disertai dengan berkurangnya lingkup gerak sendi secara menyeluruh.
b. Gelang bahu, pergelangan gelang bahu akan mengurangi lingkup gerak sendi gelang bahu. c. Kaki dan pergelangan kaki, keterlibatan persendian metatarsophalangeal (MTP), telonavikularis dan pergelangan kaki merupakan gambaran yang khas pada RA. d. Tangan, keterlibatan persendian pergelangan tangan, metacarphophalangeal (MCP), dan proximal inerphalageal (PIP) hampir selalu dijumpai pada RA
Terapi Farmakologi
Tujuan dari pengobatan rheumatoid arthritis tidak hanya mengontrol gejala penyakit, tetapi juga penekanan aktivitas penyakit untuk mencegah kerusakan permanen (Nikolas, 2012). Pemberian terapi rheumatoid arthritis dilakukan untuk mengurangi nyeri sendi dan bengkak, serta meringankan kekakuan dan mencegah kerusakan sendi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien meringankan gejala tetapi juga memperlambat kemajuan penyakit. Penderita RA memulai pengobatan mereka dengan DMARDs (Disease Modifying Anti-Rheumatic Drugs) seperti metotreksat, sulfasalazin dan leflunomid (American College of Rheumatology Subcommittee, 2012).
Terapi pengobatan di mulai dengan pendidikan pasien mengenai penyakitnya dan penatalaksanaan yang akan dilakukan sehingga terjalin hubungan baik antara pasien dan keluarganya dengan dokter atau tim pengobatan yang merawatnya. Tanpa hubungan yang baik akan sukar untuk dapat memelihara ketaatan pasien untuk tetap berobat dalam suatu jangka waktu yang lama (Schwinghammer & Koehler, 2009).
1. Disease Modifying Anti Rheumatic Drugs (DMARDs)
memiliki potensi untuk mengurangi kerusakan pada sendi, mempertahankan integritas dan fungsi sendi dan pada akhirnya mengurangi biaya perawatan dan meningkatkan produktivitas pasien RA. Obat-obat DMARDs yang sering digunakan pada pengobatan RA 14 Volume 3, Nomor 1 (2016) Jurnal Pharmascience adalah metotreksat (MTX), sulfasalazin, leflunomide, klorokuin, siklosporin dan azatioprin (Saag et al., 2008).
Penanganan medik kombinasi DMARDs dengan pemberian salsilat atau Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS) dalam dosis terapeutik. Pemberian dalam dosis terapeutik yang penuh, obat-obat tersebut akan memberikan efek antiinflamasi maupun analgesik. Namun pasien perlu diberitahukan untuk menggunakan obat menurut resep dokter agar kadar obat yang konsisten dalam darah bisa dipertahankan sehingga keefektifan obat anti-inflamasi tersebut dapat mencapai tingkat yang optimal (Smeltzer & Bare, 2002).
2. Kortikosteroid
Pengobatan farmakologi dengan kortikosteroid oral dalam dosis rendah/sedang bisa menjadi bagian dari pengobatan RA, namun sebaiknya dihindari pemberian bersama OAINS selagi menunggu efek terapi dari DMARDs (Innes et al., 2009). Kortikosteroid diberikan dalam jangka waktu sesingkat mungkin dan dosis rendah yang dapat mencapai efek klinis. Perlu diingatkan bahwa OAINS tidak mempengaruhi perjalanan penyakit ataupun mencegah kerusakan sendi. Pemilihan OAINS yang dipergunakan tergantung pada pencegahan efek samping Kombinasi 2 atau lebih OAINS harus dihindari karena tidak menambah efektivitas tetapi meningkatkan efek samping (Petri, 2007).
Dikatakan dosis rendah jika diberikan kortiksteroid setara prednison < 7,5 mg sehari dan dosis sedang jika diberikan 7,5 mg-30 mg sehari (Dipiro, 2010). Selama penggunaan kortikosteroid harus diperhatikan efek samping yang dapat ditimbulkannya seperti hipertensi, retensi cairan, hiperglikemi, osteoporosis, katarak dan kemungkinan terjadinya aterosklerosis dini. (Alldredge, et al., 2003).
3. Pengobatan Agen Biologik
Penggunaan agen biologik diberikan pada pasien yang tidak menunjukkan respon baik dengan kombinasi DMARD. Penggunaan agen biologik yang baru diharapkan dapat mengontrol penyakit rheumatoid arthritis (Perhimpunan Reumatologi Indonesia, 2014a). Agen biologik merupakan molekul protein hasil rekayasa genetika yang menghambat sitokin proinflamasi TNF-α (infliximab, etanercept, adalimumab) dan IL-1 (anakinra). Obat ini efektif digunakan jika penggunaan DMARD gagal, namun harganya jauh lebih mahal untuk digunakan (Schuna, 2008).
- Absorpsi : 15% dari dosis diserap dari usus halus, sisanya mencapai usus besar dimana ikatan azo dibelah oleh flora usus, menghasilkan sulfapyridine dan asam 5-aminosalicylic (mesalazine). 60% sulfapyridine dan 10-30% asam 5-aminosalicylic diserap dari usus besar
- Distibusi : pada pemberian secara intravena dapat melintasi plasenta dan ditemukan dalam ASI. Sulfasalazine secara ekstensif terikat protein sementara sulfapyridine didistribusikan ke sebagian besar jarigan tubuh.
- Volume distribusi : 7,5 liter
- Metabolisme : sulfapiridin mengalami metabolisme ekstensif dengan asetilasi, hidroksilasi dan glukoronidasi. Asam 5-aminosalisilat yang terserap mengalami asetilasi
- Ekskresi : melalui urin sebagai sulfasalazine tidak berubah (15%), sulfapiridin dan metabolitnya (60%) dan asam 5-aminosalisilat dan metabolitnya (20-33%)
- Interaksi obat : kadar plasma dikurangi oleh rifampisin dan etambutol, menggangu penyerapan asam folat, mengurangi kadar digoksin serum.
- Mekanisme kerja : menghambat respon sel B dan angiogenesis.
- Efek samping obat : umumnya nyeri sendi, deman, sakit kepala berkelanjutan, fotosensitifitas, ruam kulit atau gatal, muntah, anoreksia, dan dispepsia
- Indikasi : penyakit artritis reumatoid dan radang usus
- Absorpsi : diserap perlahan
- Bioavailabilitas : sekitar 64%
- Waktu puncak plasma : sekitar 3-8 hari
- Distribusi : melalui plasenta dan memasuki ASI
- Volume distribusi : 4,7-6 liter
- Waktu paruh terminal : rata-rata sekitar 2 minggu
- Mekanisme kerja : merupakan rekombinan antibodi monoklonal DNA turunan dari IgG1 manusia. Obat ini berikatan pada tumour necrosis faktor alfa (TNF-α) manusia, sehingga mempengaruhi proses peradangan yang dipicu oleh sitokin
- Interaksi obat : peningkatan resiko infeksi serius dengan obat bDMARD lainnya (seperti abatacept dan anakinra) dan rituximab, meningkatkan pengaruh imunosupresan dengan tocilizumab dan vaksin aktif
- Indikasi :artritis reumatoid, artritis psoriatik, posiasis plak, penyakit Cohn, kolitis useratif
- Efek samping obat : batuk, sakit kepala, pusing, parasthesia, insomnia
Komentar
Posting Komentar